Situ Cigangsa pada Sabtu pagi ini berubah menjadi oase budaya. Grand Opening Panggung Seni Budaya Atharrazka menyatukan berbagai elemen kreatif dan tradisi, dari tarian Jaipong anak-anak hingga atraksi pencak silat Lugay Kancana, ditemani nuansa pasar UMKM yang ramai dan penuh warna.
Acara dibuka dengan penampilan Sanggar Seni Raden Purnadhinata Art, menampilkan gerakan klasik Jaipong yang lembut namun luwes. Dilanjutkan oleh Gentra Manik 1, Raksa Wibawa 1, dan WidyaLoka Manik Tunggal 2, yang membawa variasi ekspresi tari dari anak-anak hingga remaja, memadukan energi muda dengan kearifan budaya. Kostum yang kaya warna dan gerakan yang harmonis berhasil mencuri perhatian pengunjung dan menciptakan suasana festival santai namun berbudaya.
Sorotan utama hadir dari Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana, ketika pesilat muda Neng Alisa Nur Aprilia menunjukkan jurus tradisional dan permainan senjata klasik. Setiap gerakan memadukan keindahan seni dan ketegangan aksi, memberikan pengalaman visual yang memikat tanpa kehilangan akar budaya. Kehadiran tokoh pencak silat, Kang Dodi Lugay, menegaskan bahwa pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga wadah edukasi nilai-nilai disiplin, etika, dan filosofi budaya lokal.
Ketua Sanggar Atharrazka, Pak Sugih, dengan santai menyapa pengunjung dan menekankan bahwa panggung ini adalah ruang kolaborasi. “Kami ingin anak-anak dan remaja merasakan kesenangan menari dan berlatih budaya, sambil tetap menghormati tradisi. Semoga kegiatan seperti ini menjadi agenda rutin, lebih tertata, dan semakin menyenangkan,” ujarnya.
Acara ini juga mendapat dukungan pemerintah, diwakili Ketua DPRD Purwakarta, Sri Puji Utami. Ibu Sri Puji Utami menyampaikan bahwa DPRD akan mendukung pengembangan sarana dan prasarana budaya, dengan melibatkan stakeholder, instansi, dan sponsor, sehingga kegiatan seperti ini tidak hanya berlangsung sesaat, tetapi dapat menjadi ikon budaya Purwakarta yang berkelanjutan.
Dukungan komunitas datang dari Ketua Karang Taruna Desa Campaka, H. Ahmad ST, yang menekankan peran generasi muda dalam menjaga tradisi sambil mendorong kreativitas. “Acara seperti ini mengajarkan kita untuk menghargai budaya, sambil tetap membuka ruang ekspresi anak-anak dan remaja,” katanya.
Suasana semakin hangat dengan hadirnya UMKM lokal, yang membuka lapak kuliner, kerajinan, dan jajanan tradisional. Salah satu pedagang menyatakan, “Acara ini bukan hanya hiburan, tapi juga kesempatan bagi kami untuk menunjukkan produk lokal, dan rasanya senang bisa jadi bagian dari komunitas yang peduli budaya.”
Dengan kombinasi pertunjukan tari, pencak silat, UMKM, dan interaksi santai masyarakat, Grand Opening Panggung Seni Budaya Atharrazka menjadi simbol harmoni budaya dan kreativitas lokal, sekaligus menunjukkan bahwa Purwakarta mampu mengemas tradisi dengan cara yang ikonik, santai, dan relevan bagi generasi muda.
Liputan: NataJabar



